
Pemanfaatan Limbah Pertanian Jagung Menjadi Silase Dorong Pengembangan Usaha BUMDes Berbasis SDGs
Sukoharjo, 13 Agustus 2026 – Mahasiswa KKN Tematik 250 Universitas Sebelas Maret (UNS) Kelompok 250 Desa Kagokan bekerja sama dengan Research Group Combinatorial Mathematics Program Studi Matematika, FMIPA UNS yang di bimbing oleh Bowo winarno, S.Si., M.Kom menyelenggarakan program edukasi bertajuk “Optimalisasi Pemanfaatan Limbah Pertanian Jagung melalui Pembuatan Silase sebagai Pakan Ternak Alternatif” di Desa Kagokan, Kecamatan Gatak, Kabupaten Sukoharjo.
Program ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pemanfaatan limbah pertanian jagung sebagai bahan baku silase, sekaligus membuka peluang pengembangan usaha berbasis desa melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Kegiatan diikuti oleh perwakilan BUMDes, peternak, serta masyarakat yang memiliki ketertarikan terhadap pengembangan sektor peternakan dan pemanfaatan potensi lokal.
Desa Kagokan merupakan salah satu wilayah dengan aktivitas pertanian jagung yang menghasilkan limbah tanaman dalam jumlah cukup besar. Selama ini, sebagian limbah tersebut belum dimanfaatkan secara optimal, bahkan masih sering dibiarkan menumpuk atau dibakar. Padahal, limbah jagung memiliki potensi untuk diolah menjadi silase, yaitu pakan ternak hasil fermentasi yang mampu mempertahankan kualitas nutrisi dan dapat disimpan dalam waktu yang relatif lama.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN memberikan edukasi mengenai konsep dasar silase, manfaatnya bagi peternak, bahan baku yang dapat digunakan, hingga tahapan pembuatannya. Edukasi disampaikan melalui media video yang menampilkan proses pembuatan silase secara sistematis, mulai dari persiapan bahan, proses pencacahan, penambahan bahan pendukung, fermentasi, hingga cara penyimpanan dan penggunaannya sebagai pakan ternak alternatif. Penggunaan media audiovisual dipilih agar peserta memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai proses pembuatan silase meskipun tanpa praktik langsung.
Selain memberikan pengetahuan teknis, kegiatan ini juga memperkenalkan potensi ekonomi dari pengolahan limbah pertanian. Silase tidak hanya dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak masyarakat, tetapi juga berpeluang dikembangkan sebagai produk yang memiliki nilai jual melalui unit usaha BUMDes. Dengan dukungan kelembagaan desa, pengolahan silase berpotensi menjadi salah satu usaha produktif yang mampu meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian sekaligus memperkuat perekonomian desa.
Program ini selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 (Tanpa Kelaparan) melalui peningkatan ketersediaan pakan ternak yang berkualitas dan berkelanjutan untuk mendukung produktivitas peternakan. Kegiatan ini juga mendukung SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) dengan membuka peluang lahirnya unit usaha BUMDes berbasis pengolahan limbah pertanian yang dapat menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat.
Di sisi lain, pemanfaatan limbah jagung menjadi silase merupakan implementasi SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) karena mendorong penggunaan kembali limbah pertanian menjadi produk yang bernilai ekonomi. Pendekatan ini mengurangi pemborosan sumber daya sekaligus menerapkan prinsip ekonomi sirkular di tingkat desa. Kegiatan ini juga berkontribusi terhadap SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) melalui pengurangan praktik pembakaran limbah pertanian yang berpotensi menghasilkan emisi gas rumah kaca, sehingga mendukung pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan.
Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi interaktif. Peserta aktif mengajukan pertanyaan mengenai teknik fermentasi, kualitas silase yang baik, masa penyimpanan, hingga peluang pemasaran apabila silase diproduksi secara komersial melalui BUMDes. Antusiasme peserta menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap inovasi yang mampu menjawab kebutuhan pakan ternak sekaligus memberikan manfaat ekonomi.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN Tematik 250 UNS berharap masyarakat tidak lagi memandang limbah pertanian sebagai sisa hasil panen yang tidak bernilai, melainkan sebagai sumber daya yang dapat diolah menjadi produk produktif. Pemanfaatan limbah jagung menjadi silase diharapkan mampu meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya lokal, mengurangi dampak lingkungan, memperkuat ketahanan pakan ternak, serta mendorong tumbuhnya usaha desa yang berkelanjutan.
Program edukasi ini menjadi salah satu bentuk kontribusi nyata KKN Tematik 250 UNS dalam mendukung pembangunan desa berbasis potensi lokal. Sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, BUMDes, dan masyarakat diharapkan dapat melahirkan inovasi yang tidak hanya memberikan manfaat jangka pendek, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi desa serta mendukung pencapaian target pembangunan berkelanjutan di tingkat lokal.



